Selasa, 03 Desember 2013

layarkisah.blogspot.com-Hai teman.. Apa kabarnya hari ini ? semoga pada baik saja. Kali ini Layar Kisah mendapat kirim sebuah cerita sebuah kisah  cinta, air mata , inspirasi dan motivasi dari seorang cewe nih :
Penulis : Erwanda Uci Sabri
FB       : Erwanda Ucii Sabbrii
Twitter : @Erwanda_Ucii

Langsung aja nih keceritanya . Yuk... 



KEHORMATAN ? AKANKAH UNTUK CINTA ? 

Aku tak tau mau mulai cerita ini darimana, ini tentang seorang gadis polos yang memacari seorang laki-laki berandal. Seorang berandalan menurutku tidak pantas dibilang lelaki, bagiku seorang lelaki itu seorang yang melindungi wanitanya, bukan sebaliknya. Perkenalkan namaku Kara. Umurku 15 tahun. Aku lulusan SMP berkualitas dikotaku. Tentu saja aku ingin masuk ke SMA berstandar tinggi. Diterima di sekolah yang kuinginkan, aku mulai berteman dengan banyak orang dari berbagai sekolah. Aku dulu tidak tau apa-apa tentang yang namanya cinta. Yang aku tau hanya aku sayang mama, aku sayang papa, dan aku sayang keluargaku. Jalan dua bulan aku belajar disekolah itu, aku dekat dengan seorang kakak kelas yang pernah menjadi kakak asuhku dulu waktu penerimaan siswa baru, dan aku berpacaran dengannya. Dia baik, tampan, lumayan pintar di jurusannya, dia anak orang yang berpunya, apa yang dibutuhkannya dia punya, tapi sayangnya, ya itu dia berandalan. 

Aku pernah membaca sebuah kutipan ‘’3 hal yang tak perlu dikorbankan untuk cinta, agama, keluarga, dan kehormatan‘’ yang kujadikan bekal awal untuk menjalin hubungan bersama seseorang. Awal pacaran dia masih agak malu-malu, dia rela mengantar jemputku ke sekolah, merawatku saat aku jatuh sakit, menjagaku dari kakak-kakak yang suka membully ku disekolah. Dan saat itu aku yakin dia yang terbaik. Oh iya, dia ini pacar dan cinta pertamaku, tanpa aku tau, dibalik itu semua dia .... ah nanti saja .. 

Enam bulan kami berpacaran, dia mulai minta yang macam-macam, mulai dari pelukan, cium pipi, cium bibir.. dalam pikiranku ‘’ ah kalau pacaran ciuman mah wajar,’’ tanpa rasa terpaksa, aku berikan yang dia minta. Sampai suatu saat, malam itu malam minggu, aku main kerumahnya, dia sedang tidak enak badan katanya, minta dibawakan makanan. Sebagai pacar tentu saja aku memenuhinya, lagian aku sudah cinta, aku akan melakukan apa saja untuk bisa bersamanya. Setelah sampai, benar saja dia sedang berbaring lemas. Aku menyuruhnya makan, lalu mandi. 

Di dalam kamarnya, aku dan dia duduk bersebelahan, bergandengan tangan, bercerita-cerita, tertawa, kepalanya bersender di pundakku. Sampai akhirnya dia memegang daguku sambil menatap dalam mataku. Yahhh, semua itu tak terasa, bagaikan kertas yang ditiup angin,melayang rasanya, bibirnya menyentuh bibirku, melumatnya dengan lembut, mata terpejam, dengan tangannya dileherku. Perlahan lidahnya memasuki mulutku, menggumal didalamnya. Dalam hatiku ‘’oh Tuhan, inikah yang disebut surga dunia...‘’ sampai aku sadar, kedua tanganku di cengkramnya, dan tangannya yang satu lagi mulai turun kedadaku, tapi dia pintar membuatku nyaman dengan apa yang dia lakukan. Aku mulai berfikir ini salah. Hingga akhirnya aku sadar dia telah merenggut kehormatanku dalam sekejap. 

Aku tak bisa menahan tangis, aku tak bisa menahan amarahku lagi. Dengan tertawa dia berkata padaku ‘’sekarang kamu boleh pergi dan jangan kembali.‘’. Aku melempar tasku ke arahnya, tetapi meleset, dan mengenai tumpukan buku. Dan disitulah aku tau, dia pecandu, setumpuk sabu-sabu dan ganja yang diselipkan di antara buku-buku berserakan dilantai. Aku menangis dan aku langsung pergi.
Di jalan pulang, aku hanya bisa menyesal, menyesal, dan menyesal. Kenapa cinta pertamaku membuat aku menjadi wanita kotor? Kenapa aku bisa mencintai orang seperti itu. Aku teringat kutipan yang pernah kubaca dulu, yang ku jadikan sebagai bekal, tetapi malah terlupakan begitu saja karna cinta ? aku mulai berfikir, persetan dengan cinta. Dan sekarang apa ? jika keluargaku tau , aku pasti akan dibuang, dan aku akan kehilangan keluargaku, dan yang pasti agamaku, harga diriku sebagai wanita akan hilang juga, ya Tuhan ...
Haruskan aku melanjutkan hidupku yang seperti ini, ataukah aku simpan ini semua hingga aku mati ? Aku berjalan menyusuri jalan raya sepi, yang hanya di terangi oleh lampu-lampu jalan, terduduk, terpuruk di pinggiran trotoar, meratapi semua yang telah terjadi beberapa jam yang lalu. 

Aku terkejut saat ada seorang wanita duduk disebelahku. Entah darimana datangnya, matanya hitam karna maskara yang luntur, sembab, rambutnya berantakan, memakai rok mini dan jaket kulit. ‘’aku tau apa yang sedang terjadi padamu, sesuatu baru saja hilang dari hidupmu, sesuatu yang harusnya kau jaga, tapi kau melepasnya .. Sadarilah, kau tak perlu mengorbankan semuanya hanya untuk cinta, kau hanya butuh kepercayaan, kesetiaan, dan kejujuran, jika dia tidak memiliki salah satunya, maka tinggalkan saja. 

Jangan kau melihat seorang laki-laki dari depannya saja, tapi lihat juga dari belakangnya, jangan lihat dari luarnya, tapi lihat juga dari dalamnya. Jangan jadi seperti aku, yang hanya di pakai saat mereka bosan, dan dibuang saat mereka senang, dan kemudian dipakai lagi. Yang bisa kau lakukan sekarang, tetap tersenyum, berdoa kepada Tuhan, minta ampunan-Nya, hiduplah dengan lebih baik, dan selalu belajar dari kesalahan. ‘’
Aku terdiam mendengarnya berbicara, dan sembari melihatnya pergi, aku mulai mencoba menerima diriku kembali, bertekad menjadi lebih baik, dan aku yakin aku pasti bisa. 

Hidup ini tidak selamanya seperti dongeng yang selalu berakhir bahagia, bahkan dalam dongeng itu sekalipun, peran utamanya harus jatuh bangun dulu bukan ? Hidup itu pilihan, hidup itu penuh dan memang butuh pengorbanan, tapi tidak semuanya harus dikorbankan, tergantung kepada pilihan kita masing-masing. Jangan korbankan kehormatanmu untuk cintamu jika belum saatnya. Pacaran yang wajar-wajar saja. 

Ingatlah teman ‘’bahkan pelacur sekalipun bosan dengan apa yang mereka lakukan, hanya mendengar apa yang orang katakan, tanpa mereka tau mengapa dia melakukannya.‘’

-the end-

0 komentar :

Posting Komentar